Disinyalir Menyebarkan Hoax, Satu Lagi Anggota Tim BPN Diciduk Polisi

Disinyalir Menyebarkan Hoax, Satu Lagi Anggota Tim BPN Diciduk Polisi

Satu per satu anggota tim BPN ditangkap polisi, namun tentu saja bukan tanpa alasan penangkapan yang dilakukan oleh polisi itu. Kali ini, giliran Mustofa Nahrawardaya, yang merupakan kepala divisi IT tim pemenangan pasangan capres Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno, pada hari Senin kemarin telah dikonfirmasi oleh pengacaranya bahwa yang bersangkutan ditangkap di rumahnya. Penyebab ditangkapnya pria yang lebih dikenal dengan sebutan Tofa itu adalah klaim yang ditulisnya melalui akun Twitter pribadinya yang menuduh polisi melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap seorang bocah berusia 15 tahun, hingga bocah tersebut tewas.

“Pagi tadi, sekitar pukul setengah tiga dini hari, Mustofa telah ditahan oleh Divisi Kejahatan Dunia Maya Kepolisian Nasional,” begitu tutur Djudju Purwantoro yang bertindak selaku pengacara Mustofa Nahrawardaya.

Pria berusia 46 tahun itu, didakwa atas tuduhan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 28 (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) khususnya yang mengenai pidato berisi ujaran kebencian serta Pasal 14 (2) UU No.1/1946 KUHP yang berisi tentang penyebaran informasi yang salah.

Sebelumnya memang diketahui, bahwa Mustofa Nahrawardaya memposting video viral di akun twitter pribadinya. Dalam video berdurasi beberapa detik itu, terlihat dari kejauhan bahwa ada beberapa Brimob yang melakukan tindakan pemukulan dan penganiayaan terhadap seorang pria tak dikenal. Lokasi terjadinya pemukulan tersebut terletak di depan Masjid Al Huda yang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi tidak lama setelah pecahnya kerusuhan di sekitar daerah tersebut.

Bukan hanya memposting video viral yang sebenarnya sangat terlalu dini untuk memastikan penyebab dan siapa korbannya itu, Mustofa juga sengaja mencuitkan kata-kata bernada provokatif, dalam tweetnya Mustofa secara gamblang mengklaim bahwa pria yang menjadi korban dalam video tersebut adalah seorang anak-anak berusia 15 tahun bernama Harun, yang kini telah tewas disebabkan luka-luka berat akibat penganiayaan yang dilakukan oleh polisi.

Tidak terima dengan tuduhan sepihak yang dilakukan oleh Mustofa, pihak polisi menyatakan bahwa memang telah terjadi pemukulan sesuai dengan yang terlihat pada video tersebut, namun pria yang dipukul itu tidak sampai tewas dan bukan seorang bocah berusia 15 tahun melainkan seorang pria dewasa bernama Andri bibir. Bukan hanya itu saja, bahkan untuk membuktikan pernyataanya itu, pihak kepolisian menghadapkan Andri ke depan public untuk melakukan konferensi pers.

Sementara itu, sejumlah media yang melakukan investigasi juga telah membenarkan bahwa memang benar ada korban tewas bernama Muhammad Harun Rasyid berusia 15 tahun pasca terjadinya kerusuhan 22 Mei 2019, meskipun demikian, penyebab tewasnya bocah tersebut hingga kini belum diketahui.